Birrul Walidain
(WA dr. Suparman, 9 Mei 2015)

Seorang anak bertengkar dg ibunya dan dia meninggalkan rumah.
Saat berjalan tanpa tujuan, ia baru sadar kalo ia tdk membawa uang. Ia lapar & haus. ingin sekali memesan semangkok bakmi.

Pedagang bakmi melihatnya, lalu bertanya. “Nak, apakah kamu ingin memesan bakmi ?”
Anak itu menjawab “Ya, tapi aku tak punya uang.”
“Tak apa², aku mentraktirmu.”
Anak itu segera makan,
kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa, nak ?”
“Tdk apa² Pak.
Aku hanya terharu krn seorang yg baru ku kenal, begitu peduli & memberiku semangkuk bakmi,
Sedangkan ibuku sendiri telah mengusirku dari rumah”
“Nak, knp kau berpikir begitu ?
Renungkan hal ini,
aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu.
Ibumu tlah memasak bakmi, nasi dll sampe kamu dewasa,
harusnya kau lbh berterima kasih kpd ibumu”.
Anak itu kaget mendengar hal tsb,
“Knp aku tdk berpikir tentang hal itu?
Utk semangkuk bakmi dari org yg baru ku kenal aku begitu berterima kasih.
Tp trhadap ibuku yg tlah mengandungku, memasak nasi & lauk pauk untukku, mencuci pakaianku, merawatku dg pnh kasih syng selama ber-tahun², aku tak pernah berterimakasih.”
Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia bergegas pulang.
Ketika melihat anaknya pulang, kalimat pertama yg keluar dari mulut sang ibu,
“Nak, kau sdh pulang sayang, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu.”

Kadang 1 kesalahan,
membuat kita begitu mudah melupakan kebaikan yg tlah kita nikmati tiap hari.
*
Sekali waktu kita mungkin akan sngt berterima kasih kpd orang lain utk suatu pertolongan kecil yg kita terima.
Namun kpd orang yg sngt dekat dg kita,
kita sering lupa utk berterima kasih.
Berhentilah sejenak & renungi hidup kita…
Bersyukurlah atas apa yg kita miliki sekarang di bandingkan apa yg tdk di miliki oleh jutaan orang lain.
Kelak kita akan menyesal & menangis jika ayah bunda kita telah kembali keharibaan-Nya utk se lama2 nya.

Always pray for our parents, Love them…

TIGA KEBUTUHAN DIRI
CERMINAN DOA DI PAGI HARI

(WA 10 Mei 2015, Didin Burhanudin)

Sesungguhnya termasuk dari doa yang agung yang bermanfaat yang senantiasa dijaga dan dibaca Nabi -Shalallaahu’alaihi Wasallama- disetiap pagi adalah doa yang disebutkan di dalam Musnad Al Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dari Ummu Salamah –Radhiyallahu’anha- : bahwasannya Nabi -Shalallaahu’alaihi Wasallama- apabila seusai sholat subuh biasa membaca :
أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَ رِزْقًا طَيِّبًا وَ عَمَلاً مُتَقًبَّلاً
“Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepada-Mu Ilmu yang bermanfaat dan rizki yang baik dan amalan yang (Engkau) terima” (Dishahihkan As Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibni Majah No. 753)

Copas dari Wawan Irawan P2Tel Mlg, 11 Mei 2015.

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Tiap-tiap jiwa yang terbunuh dengn penganiayaan, maka putra Adam yang pertama (Qabil), mendapat bagian dari dosa penumpahan darah, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Ada Pahala yang Tak Terhingga Di Balik Puasa Kalian (WA Didin Burhanudin, 11 Mei 2015)

Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.
Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)

Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini.
“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi*).
[* Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini dho’if , pen]
Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah [9] : 120).” –Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-

Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.

Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.